Bersama Kita Membangun Bonapasogit

Sabtu, 10 Mei 2008

CEGAH PENCEMARAN DANAU TOBA

Danau Toba luasnya mencapai 1265 kilometer persegi, perairannya dimamfaatkan sebagian warga untuk pengolahan keramba Jaring Apung (KJA). Sedikitnya ada sekitar 7000 petani KJA, yang tersebar di beberapa daerah seperti Haranggaol, Pangururan, Tomok, Tuktuk, Balige, Muara, Tongging, Paropo, Tabun Raya, Sigapitan, Tongging dan Panahatan.

Pada November 2004 lalu, puluhan juta ekor ikan Mas yang dibudi daya petani ditemukan mati secara serentak akibat virus koi herpes yang mengakibatkan kerugian miliaran rupiah. Awal 2008, petani mulai resah akibat ikan Mas dan Mujahir yang dibudi daya terkena penyakit. Pada bagian kulit ikan ditemukan banyak jamur. Bukan hanya ikan milik warga bahkan ikan Pora-pora yang hidup bebas pun juga terjangkit virus ini.

Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi pernah meminta agar ditetapkan zonasi yang jelas dalam penerapan budi daya ikan di perairan Danau Toba. Selain untuk mencegah kerusakan lingkungan, Danau Toba juga merupakan objek wisata unggulan Sumatera Utara. Operasional yang tidak ramah lingkungan akan sangat merugikan, bukan hanya sisi wisata, juga dari usaha budi daya ikan tersebut.

“Kita harapkan Danau Toba ini perlu ada zonasi yang baik, diatur sedemikian rupa hingga dikembangkan secara baik, agar lapangan kerja lebih terbuka. Namun, kelestarian lingkungan juga tetap menjadi yang utama karena pariwisata di sini tidak boleh hilang,” kata Numberi ketika meninjau pusat keramba apung milik PT Aquafarm Nusantara di Danau Toba, Parapat (Rabu, 18/1/2006).

Keramba apung milik PT Aquafarm Nusantara, merupakan kerambah ikan nila terbesar di Indonesia. Perusahaan asal Swiss tersebut memiliki sekitar 400 petak kerambah jaring apung yang dapat menghasilkan yang dapat menghasilkan 75 hingga 80 ton perharinya ikan nila kualitas eksport, untuk dikirim ke Eropah dan AS.

Aquafarm masih baru mempergunakan sekitar 7 hektar dari 30 hektar dari yang diizinkan untuk pengembangan kerambah di Danau Toba. Areal tersebut dipakai untuk 1200 kerambah apung dengan jenis, 1050 unit keramba unit pengolahan, 400 keramba ikan nila dan 200 keramba pembibitan.

Jika saja Aquafarm mengolah seluruh izin yang dimilikinya, bias saja kejadian yang menimpa petani kerambah tahun 2004 terulang kembali. Apabila ini terjadi masyarakat akan kembali menanggung kerugian yang sangat besar. Sekarang saja akibat keberadaan kerambah milik Aquafarm, sudah sangat merugikan masyarakat pelaku pariwisata.


Menurut sumber pengelola home stay di Tuktuk, sekarang ini ada turis yang datang takut untuk mandi di pantai Danau Toba, alasannya setelah melihat keramba tersebut mereka takut kulitnya jadi gatal-gatal akibat pakan ikan yang mencemari air. Padahal berenang di danau, moment yang masih laku dijual para pelaku wisata. Para turis juga menilai keberadaan kerambah di Danau Toba telah melunturkan eksotisnya panorama Danau Toba dengan Pulau Samosirnya.

“Kalau dulu banyak turis yang mandi-mandi di sepanjang pantai Danau Toba, sekarang tidak lagi. Kalau kita menjelaskan begitu sejuknya berenang di Danau Toba para turis geleng kepala. 70 persen mereka menolak berenang di Danau Toba, alasannya takut kulit menjadi gatal-gatal akibat pakan ikan yang telah mencemari air Danau Toba,” jelas Sinaga seorang guide di Tuktuk.

Sinaga menjelaskan kalau dulu ikan yang mati, mungkin lima atau sepuluh tahun lagi orang yang akan mati akibat mengkonsumsi air Danau Toba yang telah tercemar oleh pakan ikan. Apalagi sekarang pihak Aquafarm telah menambah mengelola kerambanya di daerah Lottung. Menurut Sinaga di daerah tersebut Aquafarm mempergunakan kerambah yang bulat, kerambah tersebut dapat menampung sekitar 75 ribu ekor bibit ikan nila.

“Berapa ton pakan ikan yang akan digunakan oleh Aquafarm setiap harinya kemudian kalikan berapa ton pakan yang ditabur dalam satu tahun,” tanya Sinaga. Belum lagi pakan yang digunakan masyarakat petani biasa dan limbah rumah tangga yang dibuang begitu saja ke danau.

Menurut warga di sekitar Ajibata, belakangan ini aroma bau busuk sering menebar dari perairan Danau Toba, mereka tidak tahu apakah aroma tersebut berasal dari ikan yang mati atau aroma pakan ikan yang terbawa angin ketika pekerja Aquafarm sedang memberi ikan makan. “Kondisi ini sudah sering terjadi,” jelas Pak Sidabutar.

Masyarakat sangat menghimbau agar pemerintah melalui dinas terkait mengkaji pencemaran air Danau Toba. Harus ada kerjasama antara pemerintah, pengusaha dan lintas masyarakat untuk mengatasi pencemaran air Danau Toba.

Memang keberadaan Aquafarm begitu fenomena. Perusahaan asal Swiss tersebut telah menampung ratusan orang tenaga kerja, tetapi keberadaannya menjadi andil besar mencemari Danau Toba. Masyarakat pada akhirnya mengkonsumsi air yang dicemari oleh pakan ikan.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda